Tampilkan postingan dengan label HIV dan AIDS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HIV dan AIDS. Tampilkan semua postingan

Komitmen DPR-RI untuk MDGs ; Seminar Parliaments Stand Up for MDGs

Jakarta, 17 September 2010. Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI menunjukkan komitmen pada pada tujuan pembangunan MDGs.

Salah satunya dengan mengadakan acara Parliaments Stands Up for MDGs berupa seminar yang akan diselenggarakan pada Jumat (17/9) di Operation Room, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta. Acara ini digelar menjelang pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) MDGs di New York, Amerika Serikat pada 20-22 September 2010.

"Untuk menunjukkan komitmen, dalam hal ini BKSAP akan ambil bagian dalam kampanye global tersebut," kata Kepala Bagian Sekretariat BKSAP Endah Retno Astuti.

Acara yang mengambil tema 'DPR Bangkit, Beraksi dan Bersuara untuk Pencapaian Tujuan Pembangunan Millenium' ini dibuka oleh Ketua Panja MDGs yang juga Wakil Ketua BKASP DPR, Nurhayati Ali Assegaf dan ditutup oleh Ketua DPR Marzuki Alie.

BKSAP menyepakati pembentukan Panitia Kerja (Panja) Millennium Development Goals (MDGs) yang bertujuan mewujudkan kemitraan global bagi pembangunan. Hal tersebut terungkap saat BKSAP melakukan rapat pleno yang mengagendakan pembahasan laporan delegasi DPR ke luar negeri, di Gedung DPR pada hari kamis 16/9/2010.

Panja MDGs berangggotakan 25 orang dari Komisi I dan IX. Panja merupakan kerja sama dengan parlemen negara lain untuk mempercepat pembangunan milenium antara lain soal kesehatan ibu dan anak.

Daftar Anggota Panja MDGs DPR-RI

Badan Kerjasama Antar Parlemen Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia

  1. DR. Nurhayati Ali Assegaf, M.Si - Ketua Panja MDGs
  2. DR. M. Hidayat Nur Wahid, M.A. – Ketua BKSAP / F-PKS
  3. Sidarto Danusubroto – Wakil Ketua BKSAP / F-PDIP
  4. Ir. Muhamad Najib, M.Sc – Wakil Ketua BKSAP / F-PAN
  5. Tantowi Yahya – Sekertaris Panja MDGs
  6. Ir. H. Azam Natawijana, M.Sc – Anggota / F-Demokrat
  7. Puan Maharani – Anggota / F-PDI Perjuangan
  8. KRMT Roy Suryo Notodiprojo – Anggota / F-Demokrat
  9. DR. Abdurrahman Abdullah – Anggota / F-Demokrat
  10. Hartanto Edhie Wibowo – Anggota / F-Demokrat
  11. Dr. Nova Riyanti Yusuf, Sp.KJ – Anggota / F-Demokrat
  12. Drs. Enggartiasto Lukita – Anggota / F-Golkar
  13. Nusron Wahid – Anggota / F-Golkar
  14. M. Oheo Sinapoy, SE.,MBA. – Anggota / F-Golkar
  15. Dodi Reza Alez Nurdin, MBA. – Anggota / F-Golkar
  16. Evita Nursanty – Anggota / F-PDI Perjuangan
  17. Drs. Helmy Fauzy – Anggota / F-PDI Perjuangan
  18. Drs. Al Muzammil Yusuf – Anggota / F-PKS
  19. Drs. Adang Darajatun – Anggota / F-PKS
  20. Hj. Herlini Amran, MA – Anggota / F-PKS
  21. DR. A.W. Thalib, M.Si – Anggota / F-PPP
  22. Dra. Hj. Okky Asokawati, M.Si – Anggota / F-PPP
  23. Ahmad Mumtaz Raiz, SE – Anggota / F-PAN
  24. DR. H.A. Effendy Choire, MH. – Anggota / F-PKB
  25. Dra. Susaningtyas Nefo – Anggota / F-P Hanura Panja

MDGs menetapkan 6 target kerja, sebagai berikut:

  1. Meningkatkan peran serta anggota DPR RI dalam pembuatan regulasi untuk percepatan pencapaian MDGs 
  2. Meningkatkan kapasitas DPR RI dalam pengawasan pencapaian MDGs 
  3. Mendorong kebijakan anggaran yang berpihak pada pencapaian MDGs 
  4. Meningkatkan kerjasama antar parlemen dengan organisasi-organisasi internasional seperti UNDP, UNMC dan UNICEF dalam berbagi informasi dan pengetahuan tentang pencapaian MDGs 
  5. Menjadi vokal poin DPR untuk MDGs 
  6. Mendorong Pemerintah dan para stakeholder untuk percepatan pencapaian MDGs

 

Hasil yang diharapkan dari kerja Panja

Pada akhir masa kerjanya, Panja DPR-RI untuk MDGs akan mengeluarkan rekomendasi yang dapat digunakan Pemerintah sebagai acuan guna mendorong percepatan pencapaian MDGs pada tahun 2015. Selain itu Panja juga akan bekerjasama dengan UNMC serta UNICEF untuk membuat handbook yang memaparkan tentang tugas dan tanggung jawab parlemen Indonesia . Handbook ini diharapkan juga sebagai bagian dari upaya mewujudkan komitment nasional untuk mempercepat pencapaian MDGs.

Dalam peresmian Panitia Kerja (Panja) Pembangunan Milenium atau MDGs, Ketua DPR RI Marzuki Alie memimpin peniupan pluit bersama di Operation Room-Nusantara.

Dalam kesempatan ini, disampaikan juga oleh Ketua DPR Marzuki Alie mengenai pencapaian target Millenium Development Goals (MDGs) sering disalahartikan sebagai program eksekutif. Padahal, kata Marzuki saat menyampaikan pidato pembukaan masa sidang I DPR tahun sidang 2010-2011 di Gedung MPR/DPR Jakarta, Senin 13/9/2010, pencapaian target MDGs itu adalah komitmen seluruh unsur elemen bangsa dalam rangka meningkatkan kesejahteraan bangsa.

Marzuki mengemukakan bahwa pemerintah negara-negara di dunia sudah memupuk kesadaran akan pentingnya mencapai delapan target MDGs sebagai bentuk komitmen bersama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dunia.

Target MDGs itu meliputi upaya memberantas kemiskinan dan kelaparan, penyediaan pendidikan dasar, pencapaian kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan, pengurangan tingkat kematian anak, perbaikan tingkat kesehatan ibu, memerangi beberapa penyakit menular seperti HIV/AIDS, malaria serta pengembangan kemitraan global untuk pembangunan.

“Kesulitan masih ditemui dalam mencapai sasaran di beberapa bidang, antara lain masih tingginya angka kematian ibu melahirkan, sulitnya menanggulangi laju penularan HIV/AIDS dan penyakit menular,” ujarnya.

Selain itu juga makin meningkatnya laju deforestasi kerusakan hutan yang terkait dengan upaya pelestarian lingkungan, rendahnya tingkat pemenuhan air minum dan sanitasi serta masih rendahnya peran serta masyarakat.

Terkait dengan upaya mencapai target-target MDGs itu, menurut Marzuki Alie, pada akhir Juli 2010 lalu DPR RI telah menerima kunjungan officer dari inter-Parliamentary Union (IPU) dalam rangka pelaksanaan IPU Analytical Study of the Effectiveness of Parliamentary Mechanism on the MDGs.

“DPR RI dan parlemen India dipilih oleh IPU mewakili kawasan Asia karena dinilai giat dalam hal mendorong pencapaian MDGs,” katanya. 

Menurut utusan presiden untuk MDGs, Nilla Juwita Moeloek, kemiskinan menjadi akar permasalahan kesejahteraan. "Bila manuasia sejahtera maka lingkungan tidak akan diganggu, bila lingkungan terganggu maka kesehatan juga akan terganggu," ungkapnya.

Senada dengan Marzuki, ia pun menjelaskan bahwa kemiskinan, pendidikan, dan kesehatan ibarat lingkaran setan. Bila masyarakat miskin maka pendidikan pun akan rendah, dan pendidikan juga rendah. "Ini seperti lingkaran setan, bila masyarakat miskin maka pendidikan tidak baik, dan kesehatan juga menjadi tidak baik. Tiga hal tersebut yang mengakibatkan rendahnya pendidikan karena tingkat kemiskinan," terangnya.

Sementara Ketua DPR Marzuki Alie memimpin hadirin yang hadir untuk meniup pluit bersama-sama sebagai tanda dideklarasikannya pencapaiaan MDGs 2015. "Stand up talk action for MDGs Indonesia, Stand up talk action for Mdgs Indonesia, Indonesia bisa mencapai MDGs," ujarnya dalam menutup seminar.

Sumber : www.jothi.or.id
read more “Komitmen DPR-RI untuk MDGs ; Seminar Parliaments Stand Up for MDGs”

JOTHI Menemui PT.Indofarma Dengan Visi Produksi Obat Hepatitis C Lokal


JAKARTA Jum’at, tanggal 3 September 2010, JOTHI kembali melakukan upaya advokasi pencegahan dan pengobatan koinfeksi HCV dan HIV pada sektor farmasi melalui pertemuan dengan Indofarma. Diwakili oleh tim advokasinya JOTHI yang terdiri dari POKJA pengguna napza suntik dan SEKNAS JOTHI diskusi awal dengan Sudibyo (Presiden Direktur PT.Indofarma) diselenggarakan sebagai tindak lanjut pertemuan dengan MENKES pada 12 Agustus 2010. Sudibyo menjelaskan bahwa melalui kolaborasi upaya bersama antara PT.Indofarma dengan PT.Roche upaya nyata membumikan tes dan pengobatan HCV dimulai dengan riset yang dilakukan oleh PT.Indofarma dengan PT.Roche untuk menyasar kasus infeksi Hepatitis pada kelompok masyarakat umum. Selain untuk memunculkan angka kasus inveksi Hepatitis C, upaya ini dijadikan dasar bagi PT.Indofarma dengan PT.Roche untuk mendorong produksi obat Hepatitis C lokal. Upaya produksi obat lokal ini hanya dapat dimungkinkan apabila kebutuhannya dianggap sudah cukup banyak dan mendesak

Kedepannya diharapkan produksi reagen untuk rapid test diagnostik Hepatitis C juga dapat diproduksi oleh Farmasi Indonesia, gambaran sederhana dari kebutuhan ini adalah dengan semakin banyaknya kebutuhan penapisan Hepatitis baik bagi masyarakat terutama kelompok beresiko dan untuk kepentingan screening darah PMI maka apabila tanggung jawab ini diambil oleh pemerintah sudah tentu beban biaya yang harus ditanggung juga menjadi sangat besar, mempertimbangkan bahwa harga satuan untuk test Hepatitis masih sangat mahal, berkisar antara Rp 100.000 – Rp 175.000. Maka untuk meringankan beban pemerintah, PT.Indofarma dengan PT.Roche mencoba menginisiasi produksi dalam negeri untuk reagent rapid test diagnostik untuk Hepatitis. Apabila reagent dapat diproduksi di dalam negeri, maka prediksi harga satuan reagent rapid test diagnostik Hepatitis C jatuh pada kisaran harga Rp 30.000 per unit. “Produksi reagent rapid test diagnostik dan juga obat Hepatitis C lokal sangat dimungkinkan.

Produksi reagen dan obat dalam negeri tersebut sangat tergantung dari dukungan pemerintah”, imbuh Sudibyo dalam diskusinya dengan JOTHI. Beliau berharap pemerintah dapat memberikan dukungan nyata sehubungan dengan visi PT.Indofarma dan PT.Roche dalam mengupayakan produksi obat dan reagent rapid test diagnosa Hepatitis C.

Sudibyo juga berpendapat bahwa bagi PT.Indofarma sudah menjadi harga mati untuk dapat memproduksi obat Hepatitis C dalam negeri. Secara bertahap PT.Indofarma siap untuk dapat memulai proses produksi obat Hepatitis dalam negeri, proses produksi akan dimulai dari pengemasan obat hingga proses peracikan. Meskipun semua bahan dasar obat masih harus sepenuhnya diimport, berharap dengan memulai proses produksi dalam negeri dan meskipun license awal hanya sebatas untuk dapat melakukan pengemasan, namun hal tersebut dinilai sangat membantu untuk dapat memulai menurunkan harga jual secara bertahap. Diharapkan dengan proses pengemasan yang dilakukan didalam negeri oleh PT.Indofarma maka biaya produksi dapat mulai ditekan, sehingga biaya yang harus ditanggung pemerintah dapat diminimalisir. Dampak langsung yang akan didapat adalah, setelah harga obat Hepatitis C menjadi lebih terjangkau dan kebutuhan pemakaian dapat dibuktikan dengan data yang valid maka pemerintah dapat membuat compulsory license guna produksi obat generik dalam negeri.

Keteguhan semangat PT.Indofarma untuk memulai produksi obat Hepatitis C dalam negeri dibuktikan dengan kesiapan PT.Indofarma menerima kunjungan dalam bentuk audit kesiapan produksi. Disampaikan secara tegas oleh Sudibyo bahwa PT.Indofarma sudah siap untuk memenuhi syarat pra kualifikasi yang ditentukan WHO guna mendapatkan license produksi obat Hepatitis C dalam negeri.

Koordinator Nasional JOTHI, Budi Kurniawan juga menjelaskan strategi – strategi JOTHI untuk membuat pengobatan HCV bagi orang terinfeksi Hiv di Indonesia menjadi kenyataan. JOTHI akan mendukung pengumpulan data lapangan mengenai infeksi tersebut pada populasi orang terinfeksi HIV dan keluarganya. JOTHI juga akan memproduksi literatur pengobatan koinfeksi HCV dan HIV yang dikombinasikan dengan pendidikan pengobatan sekaligus sebagai upaya pencegahan terintegrasi. Sesuai dengan diskusi JOTHI dengan MENKES pada 12 Agustus 2010, kemungkinan membuat intervensi HCV dan HIV di indonesia jauh lebih realistis. Pertanyaan Budi mengenai kemungkinan harga obat yang nantinya akan diproduksi oleh indofarma harus dapat masuk kedalam standar JAMKESMAS, komunikasi tersebut diamini oleh Sudibyo.

PT.Indofarma melalui Sudibyo menanggapi ajakan kemitraan dengan oleh JOTHI secara serius sekaligus kemungkinan kemitraan dengan Kemenkes khususnya Dirjen P2PL dalam mengembangkan strategi bersama untuk memastikan produksi obat Hepatitis C dalam negeri. Berharap dari setiap upaya yang dilakukan bersama, dapat mencapai hasil yang memuaskan demi perbaikan kualitas hidup warga negara Indonesia. Dibawah kemitraan antara Kemenkes-P2PL, PT.Indofarma dan JOTHI, maka visi untuk menyediakan dan memperluas akses pencegahan, deteksi, perawatan dan pengobatansudah membutuhkan dapat terealisasi serta berjalan secara berkesinambungan.

read more “JOTHI Menemui PT.Indofarma Dengan Visi Produksi Obat Hepatitis C Lokal”

Pertemuan JOTHI Sumbar dengan Mentri Kesehatan di RSUP M. Djamil Padang

Padang, Senin, 22 februari 2010, Kunjungan kerja tim Menteri Kesehatan ke RSUP M.Djamil Padang dalam rangka peresmian Program Internsip Dokter Indonesia yang juga di hadiri oleh Kepala Dinas Kesehatan dan DIRUT RSUP M. Djamil Padang.

Dalam Pertemuan tersebut JOTHI SUMBAR berkesempatan untuk hadir bersama rombongan wartawan. Walau isu yang di angkat oleh JOTHI SUMBAR tidak terkait langsung dengan Program Internsip Dokter Indonesia , namun secaqra jelas JOTHI SUMBAR menyatakan dukungan terhadap Program Internship dokter Indonesia agar dapat direalisasikan semaksimal mungkin secara Nasional dan di Provinsi SUMBAR secara khusus.

Menyangkut isu yang dipertanyakan JOTHI SUMBAR kepada Menkes dr.Endang R Sedyaningsih,MPH,Dr,Ph mengenai pemerataan akses Pelayanan kesehatan bagi orang terinfeksi HIV, Tes HIV gratis yang berkesinambungan, JAMKESMAS dan pendistribusian ARV diharapkan jangan sampai terputus kembali kedepannya seperti yang terjadi di tahun 2009 yang sempat putus sampai 4 kali.

Menkes merespon bahwasanya Pelayanan Rumah Sakit harus adil diberikan kepada penerima pelayanan tanpa harus membeda-bedakan status HIV seseorang. Mengenai Tes HIV gratis yang diajukan oleh JOTHI SUMBAR menkes memberikan jawaban bahwa seharusnya bagi siapapun yang mau tes HIV ke RSUP M.Djamil memang tidak dipungut biaya. Hal ini langsung ditanyakan Menkes kepada Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat agar tes HIV di berikan secara gratis di Sumatera Barat. JAMKESMAS memang ditujukan kepada keluarga yang tidak mampu bukan karena status kesehatan seseorang kecuali pasien penderita Talasemia. Mengenai subsidi ARV (AntiRetroViral) Menkes akan mengupayakan agar penyediaan ARV di SUMBAR tidak akan terputus kembali di masa akan datang.

Sumber : JOTHI Wilayah Koordinasi Provinsi Sumatera Barat

read more “Pertemuan JOTHI Sumbar dengan Mentri Kesehatan di RSUP M. Djamil Padang”

Program Kesehatan Kita – “Jawaban JOTHI atas tantangan pembaharuan Penanggulangan HIV di Indonesia”.

Cisarua, 2 februari 2010 – JOTHI (Jaringan Orang Terinfeksi HIV Indonesia) menandatangani Naskah Kerjasama (MoU) mengenai pelaksanaan Program Kesehatan Kita. Penandatanganan Naskah Kerjasama ini antara Sekertariat Nasional JOTHI dengan 11 Provinsi yang akan melaksanakan Program tersebut. Sekertariat Nasional yang diwakili oleh Sdr. Abdullah Denovan sebagai Koordinator Nasional JOTHI bersama dengan 11 Provinsi yang diwakili oleh Koordinator Provinsi masing-masing ,provinsi yang akan melaksanakan program tersebut antara lain adalah; Sumatra Barat, Jambi, Lampung, Riau, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, NTB, NTT dan Maluku. Program Kesehatan Kita secara khusus dirancang untuk mengisi kesenjangan dalam upaya pengembangan sistim psikososial dalam penanggulangan AIDS , kesenjangan yang dimaksud adalah salah satu faktor yang mempengaruhi adalah masih kurang maksimalnya kemampuan dalam mengembangkan sistim psikosial, diantaranya; kesadaran untuk memulai, mempertahankan kepatuhan HAART (Highly Active Anti Retroviral Therapy), pengelolaan kualitas kesehatan antaranya; pemeriksaan kesehatan berkala, deteksi dini infeksi, aksesi layanan kesehatan, manajemen psikologi orang terinfeksi HIV dan pengobatan infeksi penyerta.

Identifikasi munculnya kesenjangan tersebut dari hasil analisis pasca pelatihan kepemimpinan orang terinfeksi HIV yang diselenggarakan pada bulan April 2009 di Anyer, Banten serta diikuti oleh Koordinator Provinsi dari 28 wilayah koordinasi JOTHI. Pada pelatihan tersebut masih teridentifikasi adanya tantangan dan hambatan yang dialami oleh Koordinator Provinsi dalam memfasilitasi upaya – upaya dalam rangka perbaikan kualitas hidup orang terinfeksi HIV di tingkat provinsi.

JOTHI adalah organisasi Nasional orang terinfeksi HIV, dimana seluruh anggota organisasi adalah orang HIV positif yang berdomisili di wilayah kedaulatan Republik Indonesia. JOTHI memiliki visi “terpenuhinya hak-hak orang terinfeksi HIV tanpa stigma dan diskriminasi di Indonesia”. Dalam mencapai visi tersebut, JOTHI mengemban misi “membangun dan menggerakan perjuangan melawan pelanggaran hak-hak orang terinfeksi HIV dalam proses pembuatan kebijakan serta melakukan kontrol terhadap penerapan kebijakan secara terus menerus”.

Program Kesehatan Kita melibatkan partisipasi dan dukungan multi pihak dalam pendanaan maupun pelaksanaannya. Mengunakan pendanaan yang berasal dari IPF-DKIA (Indonesian Partnership Fund-Dana Kemitraan Indonesia AIDS) dan Program Kesehatan Kita pada 9 Provinsi antara lain; Jambi, Sumatera Barat, Riau, Lampung, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Maluku, NTT dan Jawa Timur menyerap alokasi dana sebesar Rp 364.000.000,-. Dukungan pendanaan lain kepada Program Kesehatan Kita berasal dari APN+ (Asia Pacific Network of people living with HIV+) sebesar Rp 60.000.000,- yang diserap oleh 2 provinsi wilayah koordinasi antara lain; NTB dan Kalimantan Selatan.

Rentang waktu pelaksanaan program Kesehatan Kita dilaksanakan selama 8 bulan untuk 9 provinsi yang didukung pendanaanya oleh IPF-DKIA. Sedangkan untuk pelaksanaan pada 2 provinsi yang didukung pendanaanya oleh APN+ dilaksanakan dengan rentang waktu selama 6 bulan, seluruh assisstensi pelaksanaan program dilakukan oleh Sekertariat Nasional melalui Deputy Penguatan Daerah. Dalam pelaksanaan Program Kesehatan Kita, dimulai sejak persiapan yang juga meliputi perencanaan dan analisa awal hingga proses akhir yang juga mencakup kegiatan monitoring dan evaluasi hasil, dilakukan juga rangkaian kegiatan pengembangan kapasitas melalui pelatihan-pelatihan. Pelatihan-pelatihan tersebut meliputi pelatihan pengelolaan program serta menjalankan sistem management, pengembangan program, pengembangan kerjasama terkait dengan pelaksanaan program yang dijalankan. Kemitraan lain yang dibangun terkait dengan pelaksanaan program antara lain kemitraan dengan pakar-pakar terkait dengan isu - isu kesehatan dan pengorganisasian orang terinfeksi HIV. Selain sebagai narasumber dalam kegiatan pengembangan kapasitas yang dilakukan dalam mendukung pencapaian program, mereka juga terlibat dalam proses mentoring kegiatan.

Program Kesehatan Kita secara khusus juga dirancang untuk menjawab tantangan pengembangan organisasi ditingkat provinsi serta untuk memperluas implementasi demokrasi dan desentralisasi pergerakan organisasi serta untuk mewujudkan nilai-nilai akuntabilitas dalam kiprah organisasi baik ditingkat Nasional maupun ditingkat provinsi. Program Kesehatan Kita juga berbasis pada pandangan bahwa pewujudan demokrasi akan terbangun ketika keadilan dan hak-hak anggota organisasi menjadi terpenuhi.

Peran JOTHI dalam sebagai fasilitator, katalisator dan inisiator proses pensejahteraan seluruh aspek hidup orang terinfeksi HIV di Indonesia menjadi nyata, tercermin dengan dikembangkannya Program Kesehatan Kita, Program ini juga sebagai jawaban langsung atas tantangan reformasi dan demokratisasi penanggulangan HIV dan AIDS di indonesia yang notabene pro kepada korban, dimana esensi kesetaraan menjadi bermakna penuh. Diharapkan juga melalui peluncuran Program Kesehatan Kita, akan terbangun kerjasama kolektif antara berbagai mitra Pemerintah, Masyarakat Sipil dan sektor swasta. Kerjasama ini akan memungkinkan diupayakannya pembangunan serta pelaksanaan Program Penanggulangan HIV dan AIDS di indonesia yang akuntabel, berkeadilan serta transparan.



read more “Program Kesehatan Kita – “Jawaban JOTHI atas tantangan pembaharuan Penanggulangan HIV di Indonesia”.”

APA ITU HIV/AIDS....?

Apa itu HIV ?

· HIV merupakan singkatan dari Human Imunnodeficiency Virus.
· HIV adalah virus yang menurunkan dan merusak sistem kekebalan tubuh manusia.
· Setelah beberapa tahun jumlah virus semakin banyak dan berkembang didalam tubuh sehingga system kekebalan tubuh tidak lagi mampu melawan penyakit yang masuk kedalam tubuh.

Apa itu AIDS ?

· AIDS merupakan kependekan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome.
· AIDS adalah kumpulan berbagai gejala penyakit akibat turunnya kekebalan tubuh yang disebabkan oleh infeksi HIV.
· Ketika kekebalan tubuh seseorang telah sangat berkurang maka semua penyakit dapat masuk kedalam tubuh dengan mudah dan cepat.

Apa beda HIV dengan AIDS ?

· Seseorang yang baru terpapar HIV belum dikatakan AIDS. Orang yang baruterinfeksi HIV belum menampakkan gejala-gejala penyakit.
· Lama-kelamaan setelah sistem kekebalan tubuhnya semakin berkurang dan telah muncul berbagai penyakit-penyakit barulah orang tersebut dikatakan menderita AIDS.

Kapan HIV berubah menjadi AIDS ?

Ada beberapa fase yang dilalui sebelum seseorang yang terinfeksi HIV masuk kedalam status AIDS.
# Stadium pertama HIV (Window Period)
1. Telah terinfeksi HIV 1 - 6 bulan
2. Gejala-gejala penyakit belum terlihat meskipun ia belum melakukan tes darah.
3. Pada fase ini antibody terhadap HIV belum terbentuk.
4. Bisa saja timbul gejala ringan seperti flu (biasanya 2-3 hari dan sembuh sendiri)

# Stadium kedua (Asimtomatik / tanpa gejala)
1. Telah terinfeksi HIV 2 – 10 tahun.
2. Pada fase kedua ini individu sudah positif HIV, tetapi tubuh penderita tetap sehat dan belum menampakkan gejala sakit.
3. Sudah dapat menularkan pada orang lain.
4. Bisa saja timbul gejala ringan seperti flu (biasanya 2-3 hari dan sembuh sendiri).

# Stadium ketiga
1. Mulai muncul gejala- gejala awal penyakit.
2. Belum disebut sebagai AIDS
3. Gejala- gejala yang berkaitan antara lain keringat yang berlebihan pada waktu malam, diare terus-menerus, pembesaran kelenjar getah bening secara menetap dan merata, flu yang tidak sembuh-sembuh, nafsu makan berkurang dan badan menjadi lemah dan cepat lelah, serta berat badan terus berkurang.

# Stadium keempat (AIDS)
1. Sudah masuk pada fase AIDS
2. AIDS baru dapat di diagnosa setelah kekebalan tubuh sangat berkurang dilihat dari jumlah sel-Tnya.
3. Timbul penyakit tertentu yang disebut dengan infeksi oportunistik yaitu TBC, infeksi paru-paru yang menyebabkan radang paru-paru dan kesulitan untuk bernafas, kanker kulit (berupa koreng diseluruh badan), sariawan, infeksi usus yang menyebabkan diare kronis, dan infeksi otak yang menyebabkan kekacauan mental dan sakit kepala.

Bagaimana penularan HIV ?

# HIV dapat ditularkan melalui media :
1. Darah
2. Cairan sperma
3. Cairan vagina

# Cara penularan HIV dapat melalui :
1. Hubungan seksual tanpa perlindungan (kondom) dengan orang yang terinfeksi HIV.
2. Transfusi darah yang tercemar HIV.
3. Penggunaan jarum suntik, tindik, tato, pisau cukur secara bersama-sama / yang sebelumnya telah digunakan oleh orang yang terinfeksi HIV. (Cara-cara ini dapat menularkan HIV karena terjadi kontak darah).
4. Ibu Hamil kepada anak yang di kandungnya.
o Antenatal : yaitu saat bayi masih berada di dalam rahim melalui plasenta.
o Intranatal : yaitu saat proses persalinan, bayi terpapar darah ibu atau cairan vagina.
o Postnatal : yaitu setelah proses persalinan, melalui proses menyusui.
o Di negara berkembang, 25 – 35 % dari semua bayi yang dilahirkan oleh ibu yang terinfeksi HIV tercatat tertular HIV, dan 90 % bayi dan anak yang tertular HIV tertular dari ibunya.

# Perilaku beresiko tinggi yang menularkan HIV / AIDS
o Memiliki banyak pasangan seksual / berganti –ganti pasangan atau mempunyai pasangan yang memiliki banyak pasangan lain.
o Berhubungan seks melalui dubur/ anus, oral maupun vagina tanpa perlindungan.
o Menggunakan jarum dan peralatan yang sudah tercemar HIV secara bersama-sama, yang tidak steril /belum disterilkan
o Tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah yaitu hubungan seks yang tidak aman dan beresiko IMS (infeksi menular seksual). IMS memperbesar resiko penularan HIV /AIDS.

Bagaimana mencegah penularan HIV ?

Ada 5 cara untuk mencegah penularan HIV, yaitu :
A : Abstinence = Anda tidak melakukan hubungan seks beresiko tinggi.
B : Be faithful = Bersikap saling setia
C : Condom = Cegah dengan menggunakan Kondom secara konsisten dan benar
D : Drugs = Hindari pemakaian narkoba suntik
E : Equipment = Mintalah pelayanan kesehatan dengan peralatan steril

Bagaimana mengetahui seseorang terinfeksi HIV / AIDS ?

· Kita tidak akan tahu apakah seseorang terinfeksi HIV atau tidak, tanpa melakukan Tes HIV / AIDS lewat pemeriksaan darah orang yang bersangkutan.
· Tes HIV berfungsi untuk mengetahui adanya antibody terhadap HIV atau mengetes adanya antigen HIV dalam darah.
· Tes HIV yang biasa dilakukan antara lain : Tes Elisa, Tes Western Blot, dan Tes Dipstik.
· Hasil tes Elisa positif perlu dikonfirmasi ( ulang ) dengan metode Western Blot yang mempunyai spesifitas yang lebih tinggi.

HIV / AIDS tidak tertular melalui :
1. Bersentuhan dengan pakaian dan tempat yang habis dipakai oleh pengidap HIV /AIDS (seperti kamar mandi, toilet umum)
2. Pengidap HIV / AIDS bersin atau batuk didaekat kita, air mata dan keringat
3. Gigitan nyamuk atau serangga lainnya
4. Piring makan dan gelas minuman
5. Bersamaan, mengobrol, memeluk, mencium pipi.
6. Hidup serumah dengan ODHA (asal tidak melakukan hubungan seksual)

Apa Syarat dan Prosedur Tes Darah HIV/AIDS ?

o Syarat tes darah untuk keperluan HIV adalah :
- Bersifat rahasia
- Harus mengikuti konseling baik sebelum maupun sesudah tes.
- Tidak ada unsur paksaan

o Prosedur pemeriksaan darah untuk HIV / AIDS meliputi beberapa tahapan yaitu :

a. Pre tes konseling
- Identifikasi resiko perilaku seksual (pengukuran tingkat resiko perilaku)
- Penjelasan arti hasil tes dan prosedurnya (positif/negatif)
- Informasi HIV / AIDS sejelas- jelasnya
- Identifikasi kebutuhan pasien, setelah mengetahui hasil tes.
- Rencana perubahan perilaku

b. Tes darah Elisa
- Hasil tes Elisa (-) kembali melakukan konseling untuk penataan perilaku seks yang lebih aman (safer sex). Pemeriksaan diulang kembali dalam waktu 3-6 bulan berikutnya.
- Hasil tes Elisa (+) konfirmasikan dengan Western Blot

c. Tes Western Blot
- Hasil tes Western Blot (+) laporkan ke dinas kesehatan (dalam keadaan tanpa nama). Lakukan pasca konseling dan pendampingan (menghindari emosi putus asa keinginan untuk bunuh diri).
- Hasil Western Blot (-) sama dengan Elisa (-)

Bagaimana pengobatan HIV / AIDS ?

· Sampai saat ini belum ada obat-obatan yang dapat menghilangkan HIV dari dalam tubuh individu. Obat-obatan yang selama ini digunakan hanya berfungsi untuk menahan perkembangbiakan virus HIV dalam tubuh, bukan menghilangkan HIV dari dalam tubuh.
· Obat untuk HIV / AIDS yang ada adalah obat antiretroviral dan obat untuk infeksi oportunistik.
o Obat antiretroviral adalah obat yang dipergunakan untuk retrovirus seperti HIV guna menghambat perkembangbiakan virus. Obat-obatan yang termasuk antiretroviral yaitu AZT, Didanoisne, Zaecitabine, Stavudine.
o Obat infeksi oportunistik adalah obat yang digunakan untuk penyakit yang muncul sebagai efek samping rusaknya kekebalan tubuh. Yang penting untuk pengobatan oportunistik yaitu menggunakan obat-obat sesuai jenis penyakitnya, contoh : obat-obat anti TBC, dll.

Apa yang harus dilakukan bila mengidap HIV / AIDS ?

· ODHA adalah singkatan dari Orang Dengan HIV / AIDS

· Apa yang harus dilakukan oleh ODHA ?
1. Mendekatkan diri pada Tuhan
2. Menjaga kesehatan fisik
3. Tetap bersikap dan berpikir positif
4. Tetap mengaktualisasikan dirinya
5. Masuk dalam kelompok dukungan (support group)
6. Menghindari penyalahgunaan NAPZA
7. Menghindari seks bebas dan tidak aman
8. Berusaha mendapatkan terapi HIV /AIDS

Bagaimana sikap kita terhadap ODHA ?
1. Tuntunlah mereka beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya agar hidupnya senang.
2. Bantu menghilangkan beban penderitaannya (misalnya dengan diajak berbicara dari hati ke hati, mengantar ke dokter / Puskesmas, memberi bantuan, diikutsertakan dalam kegiatan organisasi / menjadi relawan)
3. Perlakukan mereka secara manusiawi
4. Jadikan sebagai teman diskusi

Dengan mengenal HIV/AIDS, baik itu cara penularannya, pencegahannya, maupun pengobatannya diharapkan dapat merubah perilaku masyarakat menjadi lebih waspada dan bertanggung jawab dalam menyikapi masalah HIV ./AIDS, serta dapat bersikap rasional dan bijaksana dalam mendampingi ODHA .
read more “APA ITU HIV/AIDS....?”

12 ALASAN MENGGUNAKAN KONDOM

Menurut Dr. Nafsiah Mboy, konsultan untuk organisasiorganisasi internasional peduli HIV/AIDS, kampanye menggunakan kondom bukan bermaksud untuk melegalkan prostitusi. Penggunaan kondom, menurutnya, lebih pada upaya proteksi diri terhadap penyakit menular seks.

Berikut ini, terdapat 12 alasan mendasar mengapa kondom layak digunakan saat melakukan hubungan seks.

1. Perlindungan diri. Bila dipakai dengan benar dan konsisten, akan melindungi diri dari penyakit menular seksual dan HIV.

2. Keluarga berencana. Salah satu pilihan yang aman terpercaya untuk mencegah kehamilan.

3. Sangat praktis, mudah dibawa.

4. Semua orang bisa pakai dan tidak ada efek samping.

5. Mudah digunakan. Di tiap kemasan ada petunjuk pemakaian.

6. Menyenangkan. Pemakaian kondom bisa jadi bagian dari foreplay.

7. Dapat diandalkan. Setiap potong kondom harus lulus uji elektronis dan memenuhi Standar Mutu Internasional, ISO 4074.

8. Aman. Kondom lateks tidak berpori seperti sudah dibuktikan dalam penelitian di laboratorium. Dapat mencegah pertukaran cairan tubuh.

9. Seksi. Bisa tahan lama sehingga dapat meningkatkan kepuasan dalam bercinta.

10. Terjangkau. Harga murah.

11. Berpelicin.

12. Banyak pilihan. Ada berbagai bentuk dan aroma kondom yang bisa digunakan.
read more “12 ALASAN MENGGUNAKAN KONDOM”

Wanita Lebih Rentan Tertular Dan Menularkan HIV/AIDS

Di negeri tetangga, Thailand, pesatnya pembangunan ekonomi malah menyebabkan penyempitan pada lahan pertanian. Efeknya sangat luas, terutama pada kehdiupan kaum wanita. Dari kejadian itu, banyak kemudian wanita mencari jalan pintas untuk meraih kesenangan secara ekonomi atau hanya untuk sekedar mencari sesuap nasi, dengan menjadi pelacur. Kebanyakan dari mereka akhirnya lebih memilih tinggal di kota besar dan menjadi pemuas nafsu para hidung belang.

Kasus yang hampir sama terjadi juga di benua Afrika, yakni negeri Ghana. Suatu ketika pernah terjadi kasus penggusuran ribuan penduduk karena pembangunan sebuah bendungan di sungai volta. Buat kaum pria hal ini mungkin bukan masalah besar, karena mereka dengan cepat bisa mengganti profesi kerjanya menjadi buruh di perkotaan atau nelayan di pesisir lautan. Namun bagi kebanyakan wanita, hal ini menjadi masalah besar karena mereka tidak memiliki keahlian sebagaimana laki-laki. Akhirnya pilihan pekerjaan sebagai pelacur pun dijalani sebagai jawaban singkat atas masalah ekonomi yang menghimpit.

Ujung dari kedua masalah di atas sama. Sedikitnya pilihan dan keahlian membuat wanita lebih memilih jalan pintas, salah satunya menjadi pekerja seks komersial (PSK). Padahal, dengan profesi tersebut, kaum psk bisa menjadi sasaran empuk penularan virus HIV/AIDS, karena dari data terakhir menyebutkan bahwa 80 persen penularan virus mematikan yang belum ada obatnya itu, berasal dari hubungan seks yang tidak aman.

Masalahnya sekarang, melakukan hubungan seks yang dikatakan aman pun, dalam artian tidak berganti pasangan atau hanya dengan istri atau suami, bisa seratus persen terhindar dari penularan virus tersebut. Berdasarkan survey yang dilakukan Yayasan Kusuma Buana, ternyata di Indonesia banyak perempuan yang sudah menikah terancam positif AIDS. “Kebanyakan kasusnya adalah karena suami masih juga doyan ‘jajan’ meski sudah punya keluarga,” ujar dr Adi Sasongko, MA, ddari Yayasan Kusuma Buana.

Dalam hal ini, posisi tawar wanita memang tidak banyak di mata pria. Untuk itu, diprediksikan di masa akan datang akan semakin banyak wanita yang menjadi agen penyebaran virus mematikan tersebut.

Pasalnya, dikatakan Adi, selain sangat rentan secara biologis, wanita juga rentan secara sosiologis-gender. Selain itu, hanya perempuan yang dianugerahi kodrat untuk melahirkan, yang bisa menjadi salah satu faktor yang makin memperkuat tingginya angka penyebaran virus ini di dunia.

Secara Anatomis

Dijelaskan lebih jauh oleh Adi Sasongko bahwa kondisi anatomis kaum perempuan memang lebih memungkinkan masuknya virus HIV ke dalam organ reproduksinya. Struktur panggul wanita yang berada dalam posisi ‘menampung’, serta alat reproduksi wanita yang sifatnya ‘masuk ke dalam’, memungkinkan perkembangan berbagai macam infeksi tanpa bisa terdeteksi. “Kalau sudah terinfeksi, biasanya akan lebih mudah virus HIV/AIDS masuk ke dalam tubuh wanita.

Dibandingkan pria yang posisi kelaminnya ‘keluar, maka kemungkinan terjadinya infeksi pada alat vital bisa lebih dulu terdeteksi.

Disamping itu, lapisan mukosa (lapisan dalam) alat reproduksi wanita juga sangat halus dan mudah mengalami perlukaan pada proses hubungan seksual. Perlukaan ini juga memudahkan terjadinya infeksi virus HIV.

Faktor Psikologis

Sebuah pengujian data tentang lemahnya posisi tawar wanita hingga mengakibatkan tingginya probabilitas kaum ini terkena penyakit tersebut juga pernah dilakukan oleh Aishah Hajni Mohammed dari Malaysia. Publikasi mengenai hasil uji tersebut juga pernah dipublikasikan dalam jurnal Akademi bulan Juli 2002. Dari data kajian tentang wanita di Asia Tenggara secara umum, diketahui bahwa wanita dijangkiti AIDS karena status mereka yang subordinat kepada laki-laki dari segi sosial, ekonomi dan politik.

Selain itu, jangkitan AIDS di kalangan wanita juga dipengaruhi secara langsung oleh definisi budaya dan dibentuk secara sosial oleh peranan mereka dan definisi tentang seksualitas. “Selain itu, kekurangan dari segi pendapatan, kekuasaan dan kekayaan, telah menjadikan wanita tidak berupaya maksimal untuk menghindarkan diri mereka dari bahaya AIDS,” ujar Sasongko.

Meski demikian, beberapa kalangan wanita Indonesia, seperti artis Paquita Widjaya yang juga pemerhati masalah AIDS di Indonesia menampik anggapan kalau wanita Indonesia secara keseluruhan dikatakan lemah secara prikologis dibanding kaum pria. Dalam urusan seks, misalnya, dikatakan Paquita saat ini telah banyak wanita yang bisa mengatakan tidak kepada suami jika memang keadaan mereka sedang tidak sehat atau kelelahan, misalnya. “Jadi, kalau ada pangan yang mulai tidak toleran, saya yakin banyak kaum perempuan Indonesia yang sudah bisa bilang tidak,” tegasnya.

Meski demikian, Paquita memang tidak menyangkal kalau masih banyak perempuan yang berada di bawah tekanan pria secara psikologis, termasuk untuk urusan seks. Itu pula yang menjadikan wanita lebih rentan untuk tertular dan menularkan virus HIV/AIDS. “Tetapi tetap diyakini, bahwa faktor moral adalah hal utama yang bisa menyelamatkan seseorang dari bahaya AIDS. Kalau moralnya rendah, biar sudah punya pasangan tetap masih juga ingin menikmati yang lain, siapa bisa menjamin tak akan tertular?” tandas Paquita.
read more “Wanita Lebih Rentan Tertular Dan Menularkan HIV/AIDS”

JOTHI


JOTHI adalah Jaringan Orang Terinfeksi HIV Indonesia yang beranggotakan orang-orang yang terinfeksi HIV di Indonesia. JOTHI mendeklarasikan diri di Jakarta. Deklarasi tersebut dilakukan oleh 124 orang terinfeksi HIV di Indonesia yang berasal dari 27 Provinsi.
Musyawarah Nasional tersebut difasilitasi sebuah tim perumus yang beranggotakan 13 orang terinfeksi HIV dan 2 orang aktivis yang tidak terinfeksi HIV.

Visi &Misi JOTHI

Visi JOTHI

Terpenuhinya Hak-hak Orang Terinfeksi HIV tanpa Stigma dan Diskriminasi di Indonesia

Misi JOTHI

Membangun dan menggerakkan perjuangan melawan pelanggaran hak-hak orang yang terinfeksi HIV dalam proses pembuatan kebijakan, serta melakukan kontrol terhadap penerapan kebijakan secara terus menerus.

Visi dan misi JOTHI ini merefleksikan munculnya kesadaran dari dalam diri orang terinfeksi HIV sendiri yang mulai merasa banyak perlakuan dan pembudayaan yang dialamatkan kepada mereka membuat diri mereka sendiri menjadi korban dan obyek di dalam semua segi kehidupannya.

JOTHI mengusung visi dan misi ini dalam upaya menciptakan lingkungan dan kehidupan yang lebih baik bagi orang teinfeksi HIV di dalam mendapatkan hak-haknya sebagai manusia.

“Satu Tujuan, Satu Jaringan, Satu Suara”

Sumber : www.jothi.or.id ( klik )
read more “JOTHI”